diposkan pada : 12-01-2021 14:25:22

Seorang perempuan dengan rambut berjuntai melewati bahu memasuki sebuah kafe. Sebentar lalu, dia menghampiri lelaki yang duduk di satu kursi. Mereka pun mulai mengobrol.

Ini pertemuan pertama mereka setelah dijodohkan oleh orang tua masing-masing.

Tanpa tedeng aling-aling, sang perempuan mengaku hiperseksual kepada calon suaminya.

"Jadi kapan pun, di mana pun, posisi apa pun, kamu harus bisa puasin saya. Semuanya tergantung daya tahan kamu," ujar calon istri.

Perkataan itu seketika membuat sang lelaki menyilangkan kaki dengan lemas. Ia lantas mengeluh kepada dua sahabatnya. "Kayaknya aku enggak bisa nikah. Dia minta dilayani setiap saat," katanya.

Seorang temannya menimpali, "terus masalahnya apa?" Yang ditanya menjawab dengan suara gemetar: "Dia mintanya yang panjang, men."

Deni --nama tokoh lelaki kita-- khawatir ukuran kelaminnya tidak dapat memuaskan hasrat seks si calon istri. Sementara, mereka bakal menikah kurang dari sebulan lagi.

Dua sahabat Deni tidak kehabisan akal. Mereka membawa sohibnya itu ke Sukabumi demi menemui seorang perempuan yang mengaku cucu kedelapan Mak Erot.

Tujuannya tentu saja agar ukuran penis Deni bisa disiasati.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Sidang pembaca yang budiman lebih baik menonton sendiri. Kisah barusan cuma dicuplik dari film komedi XL, Antara Aku, Kau dan Mak Erot (rilis 2/2/2008).

Dua hal yang tersaji dari cuplikan di atas adalah penggunaan nama Mak Erot sebagai judul dan bagaimana ukuran penis menimbulkan dampak psikologis bagi seorang pria.

Merasa "burung" lebih kerdil dibandingkan yang lain mengakibatkan kepercayaan diri di hadapan pasangan hilang.

Pada saat film tersebut rilis, praktik Mak Erot--diklaim mampu menambah ukuran penis dan durasi bersanggama--sangat populer di Indonesia.

Sementara, perihal ketidakpercayaan diri lelaki terhadap ukuran penis saat ereksi dan daya tahan seksnya seolah menjadi problem abadi.

Dalam berbagai kebudayaan, kuno atau modern, penis kerap menjadi simbol maskulinitas sebab ia melambangkan kekuatan, keberanian, daya tahan, dominasi, dan cinta.

Memuaskan hasrat seks pasangan menjadi kewajiban. Bersamaan dengan itu, maka ukuran, juga ketahanan, menjadi tak kalah penting.

Tengoklah misalnya tulisan atau stiker yang kerap menempel di bus antarkota atau mobil-mobil truk, "Papa pulang, mama lemas."

Maka tiada mengherankan ketika Mak Erot meninggal pada 5 Juli 2008, praktik menambah ukuran penis dan memperlama durasi hubungan seksual yang diteruskan cucunya, Haji Syaefullah, kelahiran 3 Januari 1971, tetap ramai didatangi para pasien.

Kami mendatangi tempat praktik Pak Haji --begitu ia biasa menyebut dirinya-- pada Minggu (21/1/2018) sekitar pukul 20.00, di Jalan Purbaya No. 5, Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat.

Di atas pagar besi berkelir oranye terdapat neon box bertulisan "Pijat tradisional Hj. Mak Erot khusus alat vital pria dan payudara wanita".

"Sudah sekitar dua tahun saya buka praktik di tempat ini. Soalnya tempat yang sebelumnya di Kebon Sirih kena gusur," ujarnya dengan aksen Sunda yang kental.

Ketika kami datang, listrik di rumah tempat praktik Haji Ulloh sedang padam. Padahal tak ada pemadaman bergilir di kawasan itu. Rekening listrik pun sudah dilunasi.

"Wah, ini tanda-tanda nih. Ada apa dengan kedatangan kalian? Ha-ha-ha," kelakarnya.

Apa boleh bikin, proses wawancara berlangsung dalam keremangan. Hanya lampu yang memancar dari ponsel berfungsi sebagai pelita.

Beruntung ketika selesai wawancara dan berlanjut ke sesi foto, lampu kemudian kembali menyala.

Malam itu Haji Ulloh mengenakan baju koko dan sarung berwarna putih gading. Gelang akar bahar melingkari pergelangan tangan kanan. Kain panjang hijau membebat lehernya sebagai syal.

Kami berbincang di ruang tamu yang beralih fungsi menjadi tempat menerima pasien. Satu sofa berbentuk "L" menempel di dinding, menghadap sebuah meja kayu tempat Pak Haji duduk. Di belakangnya berdiri partisi dari rotan.

Saat kami datang, Haji Ulloh mengaku baru sehari membuka praktik setelah 40 hari melakukan tirakat di Sukabumi, kampung halamannya.

Tempat praktik itu buka saban hari mulai pukul 09.00 hingga 20.00. Hari itu, pasien yang datang sudah mencapai sembilan orang. Dia pun memperlihatkan lembaran formulir kepada kami.

Pada setiap lembaran blangko, pasien menulis ukuran penis yang diinginkan beserta durasi bercinta yang dimaui. Pasien harus membubuhkan nama asli, hari kelahiran, dan nama ayah.

"Biar doa Pak Haji kepada pasien yang berobat tidak salah sasaran," ujarnya menjawab mengapa syarat pengisian formulir harus demikian.

Sejak masih zaman Mak Erot, fungsi doa sama kuatnya dengan ramuan yang nanti diberikan kepada tiap pasien.

"Kalau cuma ramuan saja, nanti tidak maksimal 100%. Begitu juga sebaliknya. Kalau cuma doa yang saya kirimkan, tapi pasien tidak memakai ramuan Pak Haji, hasilnya juga cuma 50%," tambahnya.

Dalam lembaran formulir, kebanyakan pasien menuliskan 17 dan 18 sentimeter untuk ukuran panjang. Sementara durasi terbanyak yang diinginkan berkisar antara 30-45 menit.

Menurut Haji Ulloh, sekitar 60% pasiennya berusia 30 ke atas. Sisanya berumur 30 tahun ke bawah.

Haji Ulloh di dalam bilik tempatnya mengobati pasien.

Ramuan dari bahan alami

Sejak membuka praktik, Haji Ulloh mengaku tak pernah mendapat keluhan dari pasien yang terkena efek samping pengobatannya. Itu karena ramuannya memanfaatkan bahan-bahan alami.

Ada tiga jenis ramuan yang ia berikan kepada pasien, yaitu oles, minum, dan makan. Untuk olesan bahan bakunya berasal dari binatang, sementara ramuan yang diminum dan dimakan semuanya berasal dari tanaman.

Karena termasuk rahasia dapur, ia enggan menyebutkan jenis-jenis tanaman yang menjadi bahan baku ramuan andalannya.

Haji Ulloh hanya mengatakan bahwa semua jenis tanaman yang dipergunakan sebagai ramuan tumbuh liar di sekitar kampung. "Pun demikian, tidak boleh sengaja ditanam di pekarangan. Karena khasiatnya akan berkurang."

Kami lantas diajak memasuki kamar praktiknya yang berukuran 2x2 meter. Pada satu sisi tembok terpampang foto Soekarno. Di bawahnya terhampar kasur tempat pasien diobati.

Dikeluarkannya lima jenis penis buatan dari kayu. Masing-masing punya ukuran panjang yang berbeda, mulai dari 17 sentimeter hingga 22 sentimeter. "Ukuran yang terakhir ini tidak dianjurkan bagi yang berbodi ceking. Ha-ha-ha," kata Pak Haji.

Beberapa pasien bahkan datang ditemani istri masing-masing. Tak jarang istri mereka ikut memilihkan ukuran penis untuk suaminya yang datang berobat.

Normalnya sesi terapi hanya berlangsung satu kali. Ada yang cuma 30 menit, 45 menit, dan satu jam. "Paling lama dua jam," kata Haji Ulloh.

Selanjutnya pengobatan dilakukan oleh sang pasien di rumah masing-masing berbekal tiga macam ramuan tadi.

Waktu pengobatan juga bervariasi. Ada yang cukup tiga hari saja sudah cespleng, tapi ada pula yang hingga 27 hari.

Biaya pengobatan yang biasa ia sebut mahar juga berbeda-beda tergantung jenis keluhan. Tarif mulai Rp1,5 juta hingga Rp2,6 juta.

Setiap pasien yang berobat kepadanya, Haji Ulloh mewanti-wanti agar tidak mengonsumsi terong panjang ungu, pisang mas, dan sirih yang masih mentah.

Pantangan itu berlaku seumur hidup. Jika pasien melanggar, maka kondisi penis akan kembali seperti semula saat belum diobati.

Haji Ulloh kemudian memperlihatkan selembar buku berisi daftar pasien yang telah berobat kepadanya.

Tampak asal pasien datang dari berbagai daerah di Indonesia, hingga ke luar negeri macam Belanda, Arab Saudi, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

"Kalau cuma di Indonesia, Pak Haji sudah berkeliling dari Sabang hingga Merauke," tuturnya.

Tak jarang Haji Ulloh mendatangi tempat pasien. Ini berlaku jika yang ingin diobati adalah pejabat atau figur publik yang mengharapkan privasi.

Kemampuan memberikan pengobatan diakui Haji Ulloh tidak datang sekonyong-konyong. Masih terekam dalam memorinya saat mandat turun dari mendiang Mak Erot.

"Waktu itu Pak Haji berumur 17 tahun dan masih mondok di pesantren," kenangnya.

"Tiba-tiba Pak Haji diminta pulang karena menurut Emak saya sudah terpilih untuk mewarisi kemampuan beliau."

Proses yang harus dilalui adalah melaksanakan tirakat awal 40 hari. Selama 33 hari awal, ia berpuasa sejak subuh hingga beduk maghrib. Sisanya harus puasa tidak makan dan minum selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah itu dilanjutkan tirakat 140 hari yang terbagi dalam beberapa bagian; tiga hari awal puasa siang dan malam, hari keempat hingga hari ke-133 puasa seperti biasa. Mendekati tujuh akhir tirakat, berpuasa siang malam lagi.

Dengan syarat yang tak mudah tadi, akhirnya hanya dua dari tujuh anak Mak Erot yang sukses mewarisi kemampuan ini. Tiga orang lagi adalah cucunya, termasuk Haji Ulloh.

Walaupun mengaku sudah menunjuk putra tertuanya sebagai penerus, ia mengaku belum bisa mewariskan kemampuannya. "Baru bisa kalau Pak Haji sudah berumur 70 tahun," katanya.

Pasien nonmuslim yang ingin berobat tak perlu khawatir sebab Haji Ulloh bersedia menerima siapa saja.

"Asal mereka yakin dengan pengobatan ini, Pak Haji terbuka untuk mengobati apa pun kepercayaan sang pasien," katanya.

Saat kami menyinggung soal banyaknya pengobatan alternatif yang mengatasnamakan Mak Erot, atau bahkan tuduhan bahwa ia melakukan penipuan, Haji Ulloh hanya mesem.

Terbukti hingga saat ini ia masih bebas membuka praktik dan pelanggannya tak pernah putus.